Langsung ke konten utama

Postingan

Mengunjungi Mushola Al Hasanah di Kampung Kelantan. Berwisata Ternyata Dekat.

  Alhamdulillah, pergantian tahun kali ini, kami sekeluarga berkesempatan mudik ke kampung halaman di Medan. Selama di kota Medan, kami juga mengunjungi Kampung Kelantan, desa yang terletak di kabupaten Langkat, Kecamatan Brandan Barat. Desa ini unik, karena kita harus menyeberang laut untuk sampai ke sana. Terletak di pinggir laut, sebagian besar penduduknya adalah nelayan.     Ternyata daerah dengan nama Kampung Kelantan ini, tak cuma ada di Provinsi Sumatera Utara. Daerah dengan nama sama, ada juga di Malaysia. Semisal Kelantan, dan Perlis. Tak hanya itu, masyarakatnya juga berdialek sama.   pusat tempat ini, mengingatkanku pada slogan, “Nenek Moyangku Orang Pelaut,”. Tipologi pelaut itu, tangguh. Jika air yang berombak saja dia bisa lalui, apalagi daratan yang datar, kan? Jadi jangan heran kalau nanti anak-anak yang tumbuh di sekitar laut, apapun profesinya, juga tangguh. Di Kampung Kelantan, ada sebuah musholla bernama Al Hasanah. Memulai perja...

HYPNOBIRTHING

            Tujuh tahun lalu, aku merasakan manfaat Hypnobirthing, ketika melahirkan anak pertama kami, Khalisa. Saat itu, bisa melahirkan normal adalah pilihan pertama, karena suami baru saja resign dari pekerjaannya yang lama di Makassar dan belum dapat pekerjaan baru. Saat itu perkara pindah menjadi berat bagi kami, karena dari Makassar menuju Medan. Banyak cobaan datang, termasuk , kondisi keuangan kami yang minim. Jika aku bisa melahirkan normal, kami bisa menabung. Tujuh tahun lalu biaya persalinan SC di klinik yang kami pilih, sekitar   Rp 5.000.000,-. Sementara biaya persalinan normal, Rp 1.200.000,-. Jauh kaaan?             Bersebab itu pula, akhirnya kami mencari cara bagaimana supaya peluangku semakin besar untuk bisa melahirkan normal.   Beruntung sebelumnya aku pernah membeli sebuah buku tentang Hypnobirthing. Setelah rutin mempraktekkan Hypnobirthing,...

MENULIS LAGI? HAYUUUK!

Pertanyaan itu muncul dihatiku setiap hari. Ya…setiap hari! Tapi selalu ada alasan tuk menunda, terutama karena aku ibu dua anak tanpa ART, yang do it ‘all by my self’. Selalu ada alasan pokoknya . Setelah buku perdana di pertengahan 2017 lalu, sepertinya aku kehabisan tenaga tuk mulai menulis lagi. Inginnya, bisa menulis buku yang inspiratif (lagi), dilengkapi dengan data yang valid, berdasarkan kisah yang dialami sendiri, persis buku perdana. Kalau ingat-ingat zaman semangat nulis kayak orang kebelet nikah dulu, aku merasa memang semangat menulisku hari ini menurun. Dan niat untuk menebar nilai positif itu, tetap ada. Tapi ibarat bunga, sudah kuncup.  Seorang teman pernah berkata, “Jadi blogger saja, Mi. Tulisannya gak harus panjang. Satu-dua jam selesai. Rutin nulis satu minggu satu postingan saja, sudah bagus.Bisa menginspirasi, bisa jadi profesi juga.”   Dulu ucapannya kuabaikan, dan sekarang, teringat lagi. Ya…kenapa tidak? Apalagi lihat di beranda banyak teman-t...

Resep Kalio Jengkol

Berhubung hari ini saya tidak berselera makan, jadilah saya lirak lirik isi kulkas, berniat mencari bahan apa yang bisa membuat selera makanku kembali. Yeayy… pas lihat ada jengkol rebus, spontan saya tahu apa yang ingin saya makan. Yup! Saya mau buat kalio jengkol. Ini penampakannya… Adapun resep kalio jengkol yang saya biasa buat adalah : -           Setengah kg jengkol rebus (dibeli dari pasar dalam keadaan sudah direbus) -           Kelapa tua 1 butir. -           Satu batang sereh -           Laos, dua ruas jari. -           Asam jawa, satu mata -           Tetelan daging sapi/udang/ teri, satu ons, sebagai pelengkap, menambah wangi aroma kalio. -       ...